Pesona Wisata Bromo: Sunrise, Kuda, Gunung Api Hingga Sensasi The Lord of The Ring

Pukul 20.00, Daihatsu Terios yang mengantarkan kami (saya dan 4 orang teman dari Belanda) dari Bali dengan nyaman dan tangguh memasuki sebuah penginapan di Desa Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Setelah check in, kami segera makan malam lalu tidur. Tidak lupa berpesan kepada penjaga penginapan agar membangunkan kami esok pagi pukul 2.30.

Esoknya, pukul 2.45 pagi pintu kamar penginapan diketuk oleh penjaganya. Sebuah morning call yang terasa mengganggu nikmat tidur di pegunungan dengan hawa dingin menyengat. Penat perjalanan dari Bali sehari sebelumnya belum terbayar sempurna, tapi kami tidak ingin melewatkan pemandangan matahari terbit nanti. Meski menarik selimut dan melanjutkan tidur sebenarnya pilihan yang paling nyaman, dengan sisa-sisa kemalasan akhirnya kami menuju kamar mandi, sekedar mengusap muka dengan air yang sedingin es untuk menguapkan kantuk.

Sebuah jip 4WD (4 wheel drive) yang kami pesan semalam telah menunggu di halaman parkir penginapan dan akan mengantarkan kami menuju Gunung Penanjakan dari Sukapura, tempat kami menginap. Pukul 3.00 pagi, masih pekat ketika jip meninggalkan penginapan melewati jalan yang kami rasakan sangat terjal dan menanjak. Kami tidak begitu memperhatikan medan yang kami lewati, hanya mengikuti irama goyangan kendaraan ketika melewati tanjakan atau melintas di lautan pasir. Kami mempercayakan perjalanan ini kepada sopir yang mengantarkan kami. Beruntung, sopir di sini memiliki keterampilan menyetir yang sangat baik. Satu jam perjalanan dengan jip melewati tanjakan penuh goncangan kendaraan terasa lama. Kami tidak sabar untuk segera mencapai puncak Gunung Penanjakan.

Akhirnya, pukul 4.00 pagi, kami tiba di puncak Penanjakan. Sopir berusaha mencari parkir pada poisi paling atas agar kami tidak berjalan terlalu jauh. Ada ratusan kendaraan jip lainnya yang telah sampai lebih dahulu, artinya ada ratusan orang lainnya yang juga punya tujuan yang sama dengan kami. Udara dingin menyengat sampai ke tulang, jaket tebal, sarung tangan dan topi cadar yang kami pakai terasa tak cukup tebal melindungi tubuh dari hawa dingin. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa jaket lagi –jangan khawatir masalah dingin, anda bisa sewa jaket di sini seharga Rp.5.000-Rp 20.000, tergantung pintarnya anda menawar-

Dari tempat parkir, kami harus berjalan kaki lagi sejauh lima ratus meter menuju puncak utama Gunung Penanjakan (2700 meter dari permukaan laut), lumayan memberikan kami pemanasan dan sedikit mengusir rasa dingin. Ratusan orang lainnya, baik wisatawan domestik maupun manca negara telah berbaur dan berdesakan mendaki mencapai puncak. Di puncak, kerumunan orang makin ramai dan berebut posisi paling strategis untuk menunggu munculnya matahari dari balik gunung di sebelah timur. Oh, jadi inilah alasan kenapa kami harus mencapai puncak sepagi mungkin dan merelakan kenikmatan kehangatan selimut di kamar penginapan. Agar kami mendapatkan tempat paling bagus untuk menikmati pemandangan nanti. Hari masih gelap ketika kami sampai di puncak, bahkan belum bisa membayangkan bagaimana pemandangan dari sini. Meski semburat merah sudah merekah di timur, tapi itu belum cukup untuk memberikan penerangan di lereng-lereng di sekitar Bromo ini.

Sembari menunggu terbitnya matahari yang oleh pemandu dikatakan akan muncul sejam lagi, kami  turun beberapa meter lagi lalu memesan segelas teh hangat dan semangkuk mie instan sambil berdiang di perapian pedagang jagung dan pisang goreng yang berjualan di sekitar puncak untuk mengusir dingin. Setengah jam kemudian, kami kembali lagi ke puncak utama. Sayang, tempat yang kami sempat duduki tadi telah diambil orang lain. Lalu, kami mencari tempat duduk di sebuah bangunan terbuka, menghadap ke timur. Di depan kami ratusan orang duduk atau berdiri berjejer, menunggu sunrise. Di sebelah kiri  bangunan besar terbuka ini, ada juga bangunan lebih kecil lainnya dan dimanfaatkan oleh pengunjung sebagai tempat sholat.

Pemandangan sunrise dari puncak Gunung Penanjakan
Foto 1: Pemandangan matahari terbit dari puncak Gunung Penanjakan

Pukul 5.30, matahari muncul dari balik pegunungan di sebelah timur. Kabut tipis menyelimuti matahari yang kelihatan lebih besar dari biasanya, memancarkan bias merah oranye menyebar ke lereng-lereng pegunungan. Inilah momen yang paling ditunggu oleh pengunjung. Suara shutter kamera bersahut-sahutan mengabadikan momen pemandangan matahari terbit yang konon paling spektakuler se-Indonesia ini.

Lereng-lereng yang tadinya gelap, kini terang benderang oleh sinar matahari. Takjub, itu kata yang pertama melintasi pikiran. Siapa sangka medan terjal yang kami lewati tadi akhirnya menyuguhkan pemandangan yang membuat pengunjung enggan menaruh kamera untuk mengabadikan bentang pemandangan yang tersuguh di segala arah. Sebuah perpaduan pemandangan yang memukau. Di timur, matahari yang masih merah merekah adalah pemandangan utama yang menyita perhatian sebagian besar pengunjung. Di selatan, puncak Gunung Bromo, Gunung Batok dan Gunung Semeru berbaris membentuk barisan pegunungan seperti imajinasi dalam sebuah lukisan.

Barisan pegunungan
Foto 2: Barisan pegunungan Bromo, Batok dan Semeru

Bali boleh berbangga dengan puluhan obyek wisata alam yang mampu menarik jutaan wisatwan tiap tahun. Bagi saya, warga Bali asli dan mungkin mewakili pendapat masyarakat Bali lainnya yang pertama kali berkunjung ke tempat ini, bisa dipastikan di Bali tak akan menemukan bentang pemandangan alam seperti ini.

Kondisi kebersihan tempat ini terawat dengan baik, kami hampir tidak menemukan sampah plastik berserakan di lereng-lereng gunung Penanjakan. Entah, karena kesadaran pengunjung yang membawa kembali sampah-sampah mereka atau pengelola kawasan wisata ini mempunyai unit khusus untuk membersihkan tempat ini. Sayang, tower-tower (yang saya kurang tahu itu tower apa, mungkin telepon selular?) memberikan kesan semrawut dan sedikit menghalangi pemandangan dari puncak Penanjakan.

Tower yang mengganggu
Foto 3: Tower yang mengganggu

Matahari beranjak semakin tinggi, sinarnya yang hangat membantu mengusir dingin yang tadi menyelimuti tubuh pengunjung. Saatnya kami bergerak dari tempat duduk, melihat-lihat sekeliling. Pada dataran-dataran rendah, kabut tipis masih belum menguap ke udara, tampak seperti kain tipis menyelimuti desa-desa sekitarnya. Dan, sinar matahari yang masih muda menerpa rerumputan atau daun-daun cemara memantulkan warna keemasan adalah sangat layak untuk kami jadikan sasaran kamera berikutnya.

Kabut tipis yang menyelimuti desa-desa di dataran rendah
Foto 4: Kabut tipis yang menyelimuti desa-desa di dataran rendah
Warna keemasan yang dipantulkan sinar matahari pagi
Foto 5: Warna keemasan yang dipantulkan sinar matahari pagi

Puas mengambil beberapa gambar,  kami beranjak turun menuju tempat parkir dimana jip kami menunggu. Eh, tapi jika anda pecinta edelweis (konon bunga keabadian), anda bisa membelinya dulu dari penjaja souvenir seharga Rp. 10.000- Rp 15.000 per ikat. Bunga-bunga ini diikat dan disusun membentuk boneka, jantung atau model-model lainnya. Tidak lupa juga mengembalikan jaket yang kami sewa tadi.

Dalam perjalanan pulang, sopir jip sekaligus pemandu kami memberikan daftar tempat dimana kami harus berhenti dan mengambil foto. Oh, tentu sebuah tawaran menarik dan kami tidak akan melewatkannya. Dan, tempat pertama untuk berhenti adalah sebuah lereng yang berada di pinggang Gunung Penanjakan. Dari sini kita bisa menyaksikan pemandangan lautan pasir di bawah lereng, dan lebih jauh ke selatan tampak Gunung Batok yang berdiri gagah. Agak ke timur, terdapat gugusan gunung-gunung lainnya.

Lautan pasir
Foto 6: Lautan pasir

Sementara warna langit makin membiru, tidak lagi berwarna oranye karena matahari kian tinggi. Tak jauh dari tempat kami berdiri, terdapat sebuah bangunan pura kecil. Di Bali, bangunan ini disebut pelinggih. Sebuah bangunan yang difungsikan sebagai tempat pemujaan kepada Tuhan atau leluhur. Pelinggih yang kami temui di sini mempunyai bentuk dan struktur yang sama dengan pelinggih umumnya di Bali. Mungkin dibeli atau dibuat oleh orang Bali. Dihiasi dekorasi kain berwarna putih dan kuning. Kami tak heran bisa menemukan satu atau dua pura di kawasan ini. Menurut pemandu kami, warga Tengger (warga mayoritas di kawasan Bromo) sebagian besar mempertahankan agama Hindu. Salah satu ritual Hindu yang masih mereka pertahankan sampai saat ini adalah Upacara Kasada. -Sayang, pengunjung yang mungkin kurang paham fungsi dari pura itu memasukkan sampah ke dalamnya-

Gambar 7: sebuah pura kecil tempat pemujaan masyarakat Hindu
Foto 7: sebuah pura kecil tempat pemujaan masyarakat Hindu.

Setiap bulan Kasada hari-14 dalam Penanggalan Jawa diadakan upacara sesembahan atau sesajen untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur, kisah Roro Anteng (Putri Raja Majapahit) dan Joko Seger (Putra Brahmana) “asal mula suku Tengger di ambil dari nama belakang keduanya”, pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, yang mempunyai arti “Penguasa Tengger yang Budiman”. Mereka tidak di karunia anak sehingga mereka melakukan semedi atau bertapa kepada Sang Hyang Widhi, tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orangtua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api.
Kesuma, anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib, “Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orangtua kita dan Sang Hyang Widhi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Sang Hyang Widhi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Sang Hyang Widhi di kawah Gunung Bromo”. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.
Sebagai pemeluk agama Hindu, Suku Tengger tidak seperti pemeluk agama Hindu pada umumnya, memiliki candi-candi sebagai tempat peribadatan, namun bila melakukan peribadatan bertempat di punden, danyang dan poten.

Sumber: Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Kasada

Kami hanya berhenti beberapa saat di tempat ini. Tujuan berikutnya adalah lautan pasir di dasar kawah. Ketika kami sampai, yang kami bayangkan adalah tidak berada di Indonesia, tapi di sebuah negeri gurun yang tandus. Rekan kami ada yang berkhayal dirinya berada di suatu tempat dimana film “The Lord of The Ring” dibuat. Bedanya, di film masih menunggang kuda, di sini kami menunggangi jip. Tempat ini berdebu. Siapkan kaca mata dan masker penutup mulut dan hidung, jika anda sayang mata dan organ pernafasan anda.

Foto 8: Saatnya narsis
Foto 8: Saatnya narsis

Tujuan berikutnya tidak jauh lagi, hanya beberapa ratus meter. Mobil diparkir tak jauh dari Pura Luhur Poten, pura terbesar di kawasaan Gunung Bromo. Dari tempat parkir kami harus berjalan melewati pura menuju tangga yang menjulang sampai ke puncak Gunung Bromo. Sebagian pengunjung memilih naik kuda yang disewa seharga Rp. 100.000 yang mengantarkannya sampai anak tangga paling bawah. Selanjutnya harus mendaki ratusan anak tangga sampai di puncak.

Foto 9: pengalaman naik kuda
Foto 9: pengalaman naik kuda
tangga
Foto 10: Pengunjung mendaki tangga menuju puncak

Seperempat jam mendaki anak tangga, cukup membuat nafas pengunjung ngos-ngosan. Tapi kelelahan pengunjung terbayar oleh pemandangan dari puncak yang menyuguhkan kawah kecil yang di dasarnya terdapat danau vulkanik kecil dengan air berwana kehijauan. Bau belerang sesekali tercium menyesakkan hidung, tanda bahwa Gunung Bromo merupakan sebuah gunung api yang masih aktif. Di kawah ini, konon anak bungsu Joko Seger dan Roro Anteng dipersembahkan.

Danau Vulkanik
Foto 11: Danau Vulkanik
Kawah Gunung Bromo
Foto 12: Kawah Gunung Bromo

Setelah beberapa saat berada di puncak Bromo, saya memutuskan turun karena tidak kuat mencium bau belerang dan angin kencang yang menerbangkan debu di sekitarnya ditambah sinar matahari yang mulai terik. Sampai di bawah, kami sempatkan lagi mengambil beberapa foto Pura Luhur Poten yang berarsitektur seperti joglo, berbeda dengan pura yang ada di Bali yang atapnya biasanya memakai ijuk.

Pura Luhur Poten
Foto 13: Pura Luhur Poten

Pukul 8.30, kami memutuskan menyudahi perjalanan kami. Perjalanan lebih kurang 5 jam ini sebenarnya masih menyisakan penasaran untuk melakukan eksplorasi lebih jauh. Sayangnya, akibat perjalanan jauh dari Bali semalam,  tenaga kami tidak cukup kuat untuk itu. Kami lebih memilih kembali ke hotel untuk mandi dan sarapan, lalu tidur beberapa jam untuk memulihkan tenaga.

Informasi Geografis

Secara geografis kawasan TN.BTS terletak antara 7 51″ 39′- 8 19″ 35′ Lintang Selatan dan 112 47″ 44′- 113 7″ 45′ Bujur Timur. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan TN.BTS termasuk dalam 4 (empat) wilayah kabupaten Malang Pasuruan Probolinggo dan Lumajang – Provinsi Jawa Timur. Batas kawasan taman nasional sebelah barat : Kabupaten Malang meliputi lima wilayah Kecamatan antara lain Tirtoyudo Wajak Poncokusumo Tumpang dan Jabung sebelah timur : Kabupaten Probolinggo meliputi Kecamatan Sumber dan Kabupaten Lumajang wilayah Kecamatan Gucialit dan Senduro sebelah utara : Kabupaten Pasuruan wilayah Kecamatan Tutur Tosari Puspo dan Lumbang. Kabupaten Probolinggo wilayah Kecamatan Lumbang dan Sekarpura sebelah selatan : Kabupaten Mlang antara lain wilayah Kecamatan Ampelgding dan Tirtoyudo. (http://bromotenggersemeru.com/page/25/letak)

Info Biaya

Tiket Masuk:
Domestik : Rp. 2.500
Mancanegara: Rp. 20.000

Sewa Jip: Rp. 400.000
Sewa kuda: Rp 50.000 – Rp. 100.000

Harga penginapan bervariasi. Tempat kami menginap seharga Rp. 300.000 – Rp 1.000.000 dengan fasilitas air panas.

One thought on “Pesona Wisata Bromo: Sunrise, Kuda, Gunung Api Hingga Sensasi The Lord of The Ring

Leave a Reply

%d bloggers like this: