Candi Borobudur, Pesona yang Memudar!

Hmmmm, tiba-tiba tangan gatal ingin berbagi cerita kembali di blog ini. Sekian bulan blog ini terbengkalai karena hiatus. Ah, memang lagi malas karena media sosial lain lebih merangsang untuk sekedar bikin status. Menulis panjang itu seperti sebuah tugas kuliah yang penuh beban. Meski embrio tulisan berseliweran di kepala, toh tak satu pun yang lahir sebagai tulisan.

Jadi begini, ihwal tangan ini gatal mau berbagi cerita karena seminggu yang lalu saya menyempatkan diri mengunjungi Jogja dan sekitarnya. Sebelumnya sempat beberapa kali mengunjungi Jogja. Sayang, kunjungan terdahulu tidak sempat menikmati pesonanya. Cuma numpang lewat saja. Nah, minggu lalu itu akhirnya kesampaian juga berkeliling Jogja dan beberapa tempat menarik yang “must see” seperti Prambanan, Borobudur dan Malioboro.

Jogja tak kalah sama Bali. Kedua daerah ini masih meiliki tradisi dan budaya yang dijaga kuat oleh masyarakatnya. Peranan keraton di Jogja sangat kental terasa. Pun di Bali, peran puri juga masih terasa. Jadi mikir, ketika keraton atau puri memegang peran penting di suatu daerah, maka budaya daerah itu ajeg. Meski semenjak kemerdekaan, kerajaan-kerajaan kecil ini tidak memiliki power, masyarakat sekitarnya masih sangat hormat kepada puri atau keraton. Dan pergerakan budaya selalu berkiblat kepada puri atau keraton. Di Bali, puri menjadi pusat aktivitas pelestarian budaya. Nanti akan saya coba ceritakan di lain tulisan tentang ini.

Saya mau fokus pada Borobudur dalam tulisan ini.

Borobudur, sebuah candi Buddha yang berlokasi di Magelang. Satu jam perjalanan dengan mobil dari pusat Kota Yogyakarta. Lokasinya yang dikelilingi oleh pegunungan hijau di segala arah cukup menyejukkan mata. Jalan dari pusat Kota Jogja menuju kawasan ini cukup baik. Sepanjang jalan dipenuhi toko oleh-oleh khas Jogja. Di sekitar Candi Borobudur juga bertebaran candi-candi lain yang merupakan warisan kerajaan-kerajaan zaman Hindu & Buddha.

Candi ini memiliki pesona yang luar biasa. Pegunungan yang berbaris di sekitarnya membentang berwarna biru bagai sebuah lukisan raksasa jika dilihat dari puncak candi. Pagi hari, ketika kawasan pegunungan masih diselimuti kabut, candi ini seperti melayang di atas lautan kabut. Warna keemasan dari sisi timur candi yang menandakan kehadiran matahari menawarkan pesona pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Tak kalah sore harinya, di sisi barat juga dibentengi oleh pegunungan dan menawarkan suasana matahari terbenam.


Arsitekturnya, turis mengatakan ‘unbelievable’. Jika candi ini dibangun lebih dari seribu tahun yang lalu, logikanya semua masih dikerjakan secara manual. Mustahil jika saat itu ada alat-alat berat seperti sekarang. Dan itu tidak mudah. Dengan lokasi yang berada di atas bukit, dan candi sebesar itu? Bayangkan seberapa berat pekerjaannya. Mulai dari mengangkut batu superbesar sampai menyusunnya sedemikian rupa.¬†Ukirannya dipenuhi dengan cerita-cerita Buddha. Tak sehalus dan serumit ukiran Bali saat ini sih.¬†Tapi tetap saja, sangat menarik.

Sayang, pesona candi yang memancar sampai ke luar negeri ini mempunyai banyak catatan yang harus dibenahi. Ini pengalaman pribadi saya, dan tidak mewakili apa pun.

Pertama, tiket masuknya super mahal khususnya untuk wisatawan manca negara. USD 20, bro! Hampir 200 ribu rupiah. Just to see candi. Di Bali yang turis mancanegaranya melimpah ruah paling mahal tiket untuk sebuah obyek wisata hanya 30ribu rupiah saja. Borobudur 7 kali lipatnya! Unbelievable!!! Plusnya, setiap tamu mendapatkan layanan free drink di pintu masuk.

Kedua, guide tidak mendapat free pass! Saya harus memebeli tiket seharga 30ribu (harga tiket untuk domestik) agar bisa menemani tamu berkeliling. Nah, di Bali itu guide dimana-mana mendapat prioritas. Gratis masuk tempat wisata. Tau kenapa guide harus bayar di Borobudur, biar kami guide dari luar tidak ikut masuk. Lalu mereka menawarkan guide kepada tamu.

Ketiga, warisan budaya ini kurang terurus. Tanaman di sekitarnya banyak yang layu. Debu berterbangan. Kesannya kurang terawat gitu deh. Iya, ini memang musim kemarau, tapi dengan tiket semahal itu, masa tak bisa siapkan air untuk nyiram tamannya sih?

Keempat, waktu berkunjung hanya dibatasi sampai jam 17.15 WIB. Padahal pemandangan matahari terbenam sedang bagus-bagusnya. Dan jika kita terlambat turun dari candi, puluhan petugas akan mengusir kita. Waduh, kayak ngusir apa gitu kesannya. Dikejar-kejar, dibuntuti sampai di luar gerbang candi! Haduh, serasa gimana gitu!!!

Kelima, Pedagang acungnya itu lho. Mereka berkerumun mengejar-ngejar pengunjung sampai ke wilayah candi. Padahal jelas terpampang papan “batas pedagang acung”. Artinya mereka tidak boleh melewati batas itu. Tapi, puluhan dari mereka mengikuti kita. Jadi merasa seperti selebriti. Lihatlah gambar di bawah ini:

Itulah beberapa catatan hasil dari kunjungan ke Borobudur. Saya tidak ada maksud untuk mendiskreditkan candi kebanggaan bangsa ini. Ini murni sebagai koreksi untuk membenahi pelayanan yang ada di Brobudur. Jika tidak segera dibenahi, siap-siap saja aset wisata luar biasa ini akan ditinggalakan pengunjung. Harusnya review pengunjung seperti ini jadi masukan berharga buat pengelola.

Saya tetap berharap, semoga candi ini makin menarik pengunjung dari berbagai belahan dunia.

One thought on “Candi Borobudur, Pesona yang Memudar!

Leave a Reply

%d bloggers like this: