Rupa-Rupa Social Media Social Network

Nasib Kebyar yang Tak Kebyar

0

Blackberry Bu Kadek berdering, sebuah pesan broadcast dari temannya masuk. Isinya, seorang nenek renta dari sebuah desa yang jaraknya puluhan kilometer dari pusat kota menggendong cucunya yang yatim piatu berobat ke rumah sakit di pusat kota dengan bekal Rp. 40 ribu. Bu Kadek membaca dengan serius pesan yang baru masuk itu. Antara percaya dan tidak percaya, dan akhirnya dia memutuskan memercayai pesan itu karena didukung informasi yang dianggapnya valid untuk mendukung alibinya.

Bu Kadek, yang biasanya suka menganggap sepele broadcast semacam itu tergerak, lalu memencet broadcast. Dan pesan itu pun terkirim ke sebagian besar kontak yang ada di HPnya. Dan ini kali pertama dia mengirimkan pesan broadcast lewat smartphone-nya itu. Beberapa saat kemudian, dia mendapatkan balasan dari teman-temannya yang juga tergerak. Esok dia memutuskan akan menjenguk anak kurang beruntung itu. Tak lupa ia menyisihkan sebagian gajinya dalam amplop. Di kantor, beberapa temannya juga mengumpulkan sedikit uang dan dititipkan kepada Bu Kadek untuk diteruskan kepada nenek dan cucunya itu.

Di pikiran Bu Kadek, ketika membaca kata “kebyar” yang terlintas adalah definisi¬†bergemerlapan, bersinar-sinar. Lalu melintas kata kebyar dalam bahasa Bali yang berupa lantunan musik tradisional Bali atau tarian tradisional Bali. Sedangkan Kebyar yang dimaksud dalam pesan berantai yang ia terima di Blackberry-nya ternyata nama anak yang kurang beruntung itu. Konon, si Kebyar menderita kekurangan gizi dan telah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Kini Kebyar hidup bersama neneknya yang renta di ujung gersang Pulau Surga.

Bu Kadek bersama seorang temannya akhirnya berhasil menemui Kebyar dan neneknya. Ada puluhan orang lain yang juga ternyata bersimpati kepada Kebyar. Ada puluhan kotak makanan bertumupuk di samping ranjang Kebyar, tanda bahwa sebelumnya banyak orang yang telah datang sebelum Bu Kadek dan temannya. Tanpa banyak bercakap-cakap dengan nenek, karena sesaknya pengunjung Bu Kadek menyerahkan amplop yang berisi sumbangan dari dia dan teman-temannya. Tangan nenek gemetar menerima sumbangan, matanya dingin. Mungkin berteman kemiskinan dan kekurangan telah menempanya menjadi dingin, cenderung sinis. Atau karena kebodohan yang terpelihara dalam keluarganya tak memberinya kekuatan untuk merangkai kata-kata terima kasih yang mengharukan. Ekor matanya menangkap lukisan bentol-bentol hitam di kaki Kebyar, bekas cacar. Nyatalah, bahwa anak ini memang jauh dari standar hidup yang disebut sehat.

Hanya setitik samar butiran air mengalir pelan di ujung mata nenek. Dia gagap, mungkin hendak mengucapkan terima kasih namun yang keluar hanya desahan yang bergetar dari mulutnya. Namun, Bu Kadek tak berharap dia menerima ucapan terima kasih itu. Dia tahu, yang dibutuhkan nenek dan Kebyar bukanlah pamer dari para penyumbang, tapi kesehatan dan kesembuhan cucunya itu. Dan itu lebih dari sejuta terima kasih yang keluar dari mulut renta itu.

Pikiran Bu Kadek mengembara, Bali yang dijuluki Pulau Surga ini ternyata tak menjadi surga yang harusnya berkebyar juga buat penghuninya. Bali yang tiap saat dipenuhi event-event internasional tak mampu memberikan fasilitas paling dasar bagi penghuninya, kesehatan. Bali yang kini makin dipenuhi infrastruktur modern tak mampu memberikan kesejahteraan bagi warganya. Lalu, untuk siapa infrastruktur itu? Apakah sarana yang dibangun bahkan dengan mengorbankan sebagian ekosistem pulau Bali yang harusnya dilindungi akan memberikan kemudahan bagi warga?

Oh ya, Bu Kadek juga membaca sepintas ada bupati yang segera menyumbang untuk Kebyar. Sumbangan itu dimuat di koran dalam bentuk advertorial. Bu Kadek tak tahu pasti, apakah pak bupati merogoh dompetnya atau menarik sebagian tabungan lewat ATMnya atau memanfaatkan sebagian dana APBD untuk disumbangkan kepada Kebyar. Ah, sayang sekali. Para politisi memanfaatkannya sebagai ajang popularitas. Bahkan untuk menyumbang pun harus melalui birokrasi berbelit, bahkan masuk berita advertortial yang biayanya mungkin diambil dari kas daerah. Dan tentu saja mengeluarkan dana tambahan untuk membayar ruang berita di harian lokal.

Dalam pikiran Bu Kadek, pemerintah sebagai kepanjangan manajemen negara harusnya bisa memberikan usaha-usaha preventif dengan menyediakan berbagai kebutuhan dasar warganya. Bukan bertindak ketika masyarakat sudah sekarat. Mirisnya, masyarakat yang kurang beruntung kerap dijadikan ajang menarik simpati oleh politisi. Dan mereka, para birokrat itu seolah membiarkan kemiskinan dan kebodohan menjadi aset bagi pertarungan politik mereka. Bukankah mudah bagi mereka untuk mengelabui masyarakat bodoh? Karena masyarakat bodoh tak akan menuntut prosedur dan penyediaan fasilitas yang memadai sebagai hak mereka. Karena lebih mudah menipu rakyat bodoh dengan memberi mereka uang tinimbang menyediakan fasilitas dasar buat mereka.

Kebyar, tak seindah namanya. Dia tak bekebyar layaknya arti kebyar jika merunut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Beruntunglah, zaman digital telah merubah pola komunikasi dan informasi. Pesan berantai lewat media sosial telah menggerakan masyarakat yang masih punya nurani untuk ikut membantu sesamanya yang kurang beruntung. Dan Kebyar-Kebyar lainnya ada harapan untuk berkebyar dengan bantuan media sosial yang menjembatani mereka dengan masyarakat lain yang peduli.

You may also like
Pengoemoeman: Pindah Rumah
Optimalisasi Facebook Timeline untuk Bisnis Anda

Leave Your Comment

Your Name*
Your Webpage

Your Comment*