Bali: Paving Paradise

Pernahkah anda membayangkan Bali ini dipenuhi oleh beton dan paving? Silakan tonton dua video di bawah ini sebelum melanjutkan membaca tulisan saya di bawahnya.

Dibalik berbagai julukan yang membuat hati semua orang Bali berbunga-bunga, tersimpan masalah yang siap  menghancurkan Bali secara adat, tradisi, agama dan bahkan orang Bali itu sendiri. Pemuda Bali kini kehilangan tanah, mereka tidak punya harapan lagi untuk mempunyai tanah di tanah kelahirannya sendiri. Harga tanah yang tinggi membuat tanah Bali hanya bisa dibeli oleh investor dan dikuasai oleh makelar tanah. Pemuda Bali bersiap untuk transmigrasi ke tempat lagi, atau menjadi trasnmigran musiman di kapal pesiar.

Tak salah jika Bali mempunyai filosofi rwa-bhinneda, dua pertentangan yang selalu berjalan bersama-sama. Bali terbelah antara modernitas dan tradisi.  Dari segi ekonomi dan peluang kerja masyarakat akan mengatakan Bali kini jauh lebih maju, lebih makmur. Di sisi lain Bali menghadapi masalah lingkungan, kepadatan penduduk dan pengunjung, degradasi budaya lokal. Gaya hidup borjouis dan hedonis masyarakat merupakan kata maaf yang paling ampuh atas hiper-ekploitasi pulau kecil ini. Sedangkan kearifan lokal yang selalu dihiasi dengan konsep Tri Hita Karana terkikis oleh gaya hidup modern dan hedonis.

Siapa yang salah? Masyarakat Bali, investor, wisatawan atau pemerintah? Mangku Pastika mengatakan yang salah adalah adalah investor rakus. Aktivis mungkin mengatakan bahwa ini adalah kesalahan pemerintah yang terlalu permisif terhadap kepentingan investor. Ada pula yang mengatakan ini adalah kesalahan turis. Turis bukanlah Tuhan.

Banyak pendapat yang menyalahkan Bali menjadi seperti sekarang. Banyak pula yang prihatin akan kondisi Bali saat ini. Masing-masing dari kita mungkin punya argumentasi yang berbeda terhadap masalah yang dihadapi pulau ini. Bali tidak mungkin diperluas. Mimpi Bali kembali seperti tahun 70-an tak mungkin terwujud. Bali bukanlah benua yang bisa dijelali dengan berbagai infrastruktur modern yang menelan lahan Pulau Bali. Bali mempunyai daya tampung yang terbatas, pembangunan dan penyediaan sarana yang berlebihan untuk kepentingan turis yang bertujuan membawa turis lebih banyak ke pulau ini akan menambah masalah jika yang kita inginkan adalah Bali seperti yang “dulu”.

Sebentar lagi kita akan memilih pemimpin Bali. Percaya tidak percaya nasib Bali ini tidak ditentukan oleh aturan, tapi seberapa tegas pemimpinnya. Regulasi hanya tinggal regulasi jika pemimpinnya permisif dan itu akan diteruskan oleh struktur di bawahnya.

Dan jika Bali sudah tidak lagi berpihak kepada manusia Bali, akankah kita pindah ke luar pulau saja? Dan membiarkan saja pulau ini menjadi pulaunya para investor atas izin dari penguasa?

One thought on “Bali: Paving Paradise

  • Istilah Bali sebagai pulau surga, hanya sebuah istilah yang menginabobokan masyarakatnya. kalau tidak bangun dari tidur maka penderitaan segera akan mengguncang bali.

Leave a Reply

%d bloggers like this: