Berpetulang Menjelajah Geopark Dunia Bersama Daihatsu Terios – Mobil Sahabat Petualang

Ah, akhirnya ada momen ketika saya harus terbangun dari hiatus ngeblog. Banyak ide tulisan berseliweran di kepala, tak satu pun menjelma menjadi tulisan. Nah, lewat Kontes Blog Mobil Sahabat Petualang #terios7wonders, tidak ada lagi alasan untuk tidak menceritakan pengalaman seru bersama Daihatsu, beberapa minggu yang telah lewat.

Sebernarnya saya bukan tipe petualang sejati, meski saya suka petualangan kecil seperti trekking, rafting dan beberapa petualangan lain yang tidak teralu memacu adrenalin. Berpetualang dengan mobil tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya yang seorang yang merintis jasa transportasi pariwisata di Bali tidak pernah berpikiran untuk berpetualang secara khusus dengan mobil. Sampai pada suatu ketika, seorang kerabat menghubungi saya dan menawarkan mobil Daihatsu Teriosnya diikutkan dalam usaha saya sebagai salah satu armada angkutan wisata. Saya masih berpikir cukup lama untuk memutuskan mengikutkan mobil kerabat tadi dalam armada kami. Kami lebih memilih mobil lain yang lebih simpel dengan alasan lebih murah, jadi bisa menjualnya dengan harga yang lebih murah.

Hingga hampir dua bulan berselang, kerabat itu masih saja menghubungi saya dan masih gigih menawarkan mobilnya. Maklum, dia baru saja membeli mobil baru jadi mobil lama maunya dipakai untuk bisnis. Alasan saya tidak langsung mengiyakan perminataannya karena saya belum pernah menggunakan Daihatsu Terios sebagai angkutan wisata dan saya belum tahu pasti bagaiamana performa dan kenyamanannya.

Sudah cukup banyak rekan blogger yang menulis di blog mereka berdasarkan referensi dari situs resmi Daihatsu mengenai ketangguhan dari Terios yang telah menjelajahi Pulau Sumatera dengan berbagai medan dan potensi kopi yang merupakan Coffee Paradise di Indonesia.

Tim petualangan Terios 7-Wonders menjelajah setidaknya 3.300 kilometer dari Jakarta menuju titik nol kilometer di Kota Sabang, Aceh. Tim petualangan telah merangkum berbagai keindahan dan pesona Pulau Sumatera serta menjajal ketangguhan dengan Daihatsu Terios TX-AT (2 unit) dan Terios MT (1 unit).

Perjalanan ini dijadwalkan akan memakan waktu selama 14 hari. “Perjalanan Daihatsu Terios 7-Wonders yang akan memakan waktu hingga 14 hari ini, fokus pada eksplorasi keindahan alam Sumatra hingga titik nol kilometer di Sabang. Dalam perjalanan ini juga, Daihatsu beserta tim yang melakukan ekspedisi, akan singgah di tujuh lokasi produsen kopi Luwak yang sudah ternama hingga mancanegara. Selain merangkum semua keindahan alam yang tersaji sepanjang rute perjalanan, kami juga melakukan aktivitas CSR dengan meberikan bantuan kepada Posyandu binaan serta memberikan bantuan kepada UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) diwilayah Bengkulu dan Medan. Dan perjalanan ini merupakan bentuk uji performa Daihatsu Terios dengan beragam medan jalan yang memang sesuai dengan peruntukan Daihatsu Terios sebagai SUV sejati, hal ini sejalan dengan kampanye kami, Daihatsu Terios, Sahabat Petualang,””ujar Amelia Tjandra Marketing Director PT ADM.

Jika tim ekspedisi dari Daihatsu punya petualangan di Sumatera, saya juga ingin berbagi cerita mengenai petualangan saya sendiri di Pulau Bali. Meski tidak sejauh dan seberat medan yang ditempuh tim yang menjelajah Sumatera, setidaknya saya telah merasakan bagaimana ketangguhan mobil sahabat petualang ini.

Kembali ke topik tulisan saya, saking lamanya, akhirnya tanggal 8 November saya memutuskan mengecek mobil itu ke rumahnya. Saya mengatakan akan melakukan test drive dulu sebelum sepakat memasukkan mobilnya ke dalam armada wisata saya. Hari itu juga saya ambil mobilnya dan berencana melakukan test drive. Tujuan saya adalah medan yang saya anggap cukup sulit, terjal dan berbatu.

Maka, melajulah saya ke arah Kintamani tepatnya Batur Caldera Geopark, sebuah kawasan geopark yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO menjadi kawasan geopark dunia. Kawasan ini berada pada kawah yang cukup lebar yang berasal dari letusan super besar Gunung Batur ribuan tahun yang lalu. Pada bagian dalam kawah ini mebentuk sebuah gunung api baru yang kini dikenal dengan Gunung Batur. Di sisi timur Gunung Batur membentang Danau Batur yang merupakan danau terbesar di Pulau Bali.

Kawasan ini memang layak menjadi kawasan yang diakui dunia. Secara geografis, kawasan ini berada di sentralnya pariwisata Indonesia, Pulau Bali. Kawasan ini sebenranya sudah mendunia cukup lama. Tak heran, pujangga sekelas Sutan Takdir Alisjahbana mendirikan sebuah penginapan lengkap dengan perpustakaannya puluhan tahun lalu di kawasan ini, tepatnya di Toya Bungah. Dan Sutan Takdir juga merupakan pencetus jalan raya yang menuruni perbukitan dari Penelokan menuju ke Danau Batur.

Petualangan dimulai ketika mulai mengikuti jalanan menurun dari Penelokan menuju ke Danau Batur. Jalanan cukup terjal, di kiri kanan terdapat beberapa jurang yang cukup dalam. Jalanan ini cukup ramai dilalui kendaraan truk pengangkut pasir dan batu sebagai material bangunan yang diangkut dari kaki gunung dan dijual keluar dari daerah ini. Pengendara harus ekstra waspada terhadap kemungkinan truk yang tiba-tiba mogok dan bisa saja nyelonong menabrak pengendara lain. Perjalanan turun dari Penelokan sampai di Desa Kedisan memakan waktu setidaknya 10-15 menit. Jika telah tiba di Kedisan, jangan langsung menuju ke arah Geopark, belok kanan terlebih dahulu, ikuti jalan menuju ke Desa Trunyan.

Jika punya waktu lebih, di dermaga Desa Kedisan anda bisa menyewa perahu motor dan nikmati petualangan di danau menuju Desa Trunyan. Tetapi saya memilih menggunakan Terios ini untuk berpetualang. Desa Trunyan kini terhubung dengan desa lainnya melalui jalan darat setelah pemerintah setempat merealisasikan jalan menuju desa ini. Desa Trunyan adalah sebuah desa tua (biasa disebut Bali Mula) di Bali yang mempunyai tradisi cukup unik yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain. Ketika seseorang meninggal, masyarakat Trunyan tidak menguburkannya, tetapi hanya meletakannya di tanah dan hanya ditutupi anyaman bambu dilengkapi dengan beberapa sesajen. Ajaib, mayat ini tidak mengeluarkan bau sama sekali karena bau busuknya dinetralisir oleh pohon taru menyan yang tumbuh dekat kuburan. Selengkapnya tentang desa ini bisa dibaca di tulisan saya sebelumnya: Trunyan, Desa Bali Mula yang Berbenah kembali.

Setelah melewati Desa Buahan, jalan menuju Trunyan sangat terjal. Meskipun tidak terlalu banyak tanjakan, pada sisi sebelah kiri, jurang yang langsung menghadap ke Danau Batur menganga menanti setiap pengendara yang kurang waspada. Jalanan kecil dan berkelok memerlukan keawaspadaan tingkat tinggi. Disini ujian kedua pada Daihatsu Terios. Perpindahan gigi yang lembut dan kemudi yang ringan membuat petualangan di sisi selatan Danau Batur ini terasa berada di jalanan lurus dan datar saja. Yang dibutuhkan hanya kewaspadaan, mengingat medan yang cukup sempit dan terjal. Dari sisi kendaraan, suspensi Terios bisa diandalkan untuk melewati medan sekelas ini.

Sampai di Trunyan, harus menyewa perhau motor atau perahu dayung untuk meunju ke kuburannya. Kenapa kuburan? Karena inilah potensi unik dari Desa Trunyan. Dari pusat Desa menuju kuburan dapat ditempuh setidaknya sepuluh menit menggunakan perahu motor dan 20 menit menggunakan sampan tradisional.

Kembali dari Trunyan harus melewati jalan yang sama, karena ini jalan satu-satunya yang menghubungkan Trunyan dengan desa-desa lainnya. Ketika sampai di Desa Kedisan kembali, sempatkan diri untuk bersantai dan menikmati lezatnya ikan mujair Danau Batur. Mampirlah di Restoran Apung Kedisan. Tempatnya berada persis di pinggir Danau Batur. Restoran ini mengapung di tengah danau dan memiliki pemandangan langsung ke arah danau dan gunung di sekitarnya. Tempat ini sekarang menjadi salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi ketika berlibur ke Kintamani. Selain menjadi tempat wisata, tempat ini seringkali dipakai tempat syuting berbagai film televisi nasional.

Puas menikmati hidangan di restoran ini, saatnya melanjutkan petualangan. Rute yang diambil sebaiknya melewati Toyabungkah, lalu berlanjut melewati Desa Songan. Sepanjang perjalanan dari Desa Kedisan menuju Toyabungkah akan dijumpai lelehan lahar dari letusan Gunung Batur puluhan tahun yang lalu. Daerah lelehan lahar itu sebelumnya adalah sebuah desa yang kemudian terkubur oleh pasir, batu dan lahar dari Gunung Batur.

Tempat menarik berikutnya adalah Toya Bungkah. Kawasan ini kaya akan sumber air panas alami. Beberapa tempat sudah dikelola dengan apik oleh masyarakat dan perusahaan. Ada juga kawasan air panas yang dikelola oleh desa adat. Banyaknya sumber air panas ini disebabkan uap panas yang mengair melalui terowongan-terowongan lava di bawah Gunung Batur. Di Toyabungkah pula anda bisa napak tilas perkembangan sastra Indonesia lewat perpustakaan pribadi Sutan Takdir Alisjahbana. Sayang, setelah beliau meninggal tempat ini kurang terawat. Namun, beberapa tempat dan koleksi beliau masih bisa dijumpai di sini.

Perjalanan tidak terlalu sulit melewati daerah ini karena jalan sudah beraspal dan cukup lebar. Meskipun di beberapa ruas jalan, sering dijumpai lubang karena jalan disini tiap hari dilalui kendaraan berat yang mengangkut pasir dan batu. Sampai di Desa Songan, saya berbelok ke kiri menuju Toya Mampeh. Sepanjang Desa Songan anda akan menjumpai perkebunan sayur milik masyarakat. Desa  Songan adalah salah satu pemasok terbesar kebutuhan sayur mayur di Bali selain Baturiti di Bedugul.

Setelah melewati hamparan perkebunan sayur sepanjang Desa Songan, perjalanan sampai pada sisi barat laut Gunung Batur. Ini petualangan sebenarnya yang saya nantikan. Di daerah lelehan lahar pada bagian barat Gunung Batur, jalan tidak sebagus jalan sebelumnya. Banyak jalanan yang sudah keropos dan menonjolkan batu-batu kasar karena aspalnya yang sudah terkelupas.

Sampai disini Terios masih tangguh. Belum terasa petualangannya, yang saya maksud petualangan adalah ketika Terios berhasil melewati medan yang saya anggap paling berat. Dari jalanan beraspal, saya memutuskan berbelok ke kiri menuju sebuah pura yang disebut Pura Prapen. Saya melihat jalan belum diaspal, hanya diratakan sedikit. Jadi, masih terlihat bebatuan tajam yang menonjol disana sini. Ada perasaan khawatir ketika membelokan kemudi ke arah pura ini. Suasananya sepi, hanya beberapa kali kendaraan yang lewat daerah ini.

Bebatuan di daerah ini berwarna hitam kasar, berongga dan tajam. Saking rapatnya lahar yang kini mengering menjadi batu, membuat rumput dan pepohonan sulit tumbuh di tempat ini. Selain kurang hara, air juga sulit didapat. Masyarakat setempat banyak yang menggali bebatuan ini, lalu dijual keluar kawasan ini dan biasanya digunakan sebagai dekorasi dan tembok bagi masyarakat.

Nekat, saya pelan-pelan injak gas Terios ini. Hmmmmm….tak terasa guncangannya meski melewati jalanan bergelombang dan bebatuan yang tajam. satu hal yang saya takutkan hanya ban gembos karena tertusuk batu tajam. Syukurlah tidak terjadi, meskipun saya memutuskan kembali karena kasihan membawa mobil ini ke medan yang cukup berat menurut saya. Karena mobil ini memang diperuntukkan bukan untuk tujuan petualangan ekstrim. Saya pikir cukup sampai beberapa puluh meter menjajal kerasnya lahar kering Gunung Batur.

Sudah hampir setengah hari saya berpetualang sendiri, akhirnya saya putuskan untuk segera menyudahi petualangan ini. Saya sempatkan mengambil beberapa gambar sebelum meninggalkan tempat ini. Perjalanan pulang, saya harus melewati tanjakan yang cukup terjal. Dari bawah sampai ke atas tebing, saya tidak berani untuk mengganti persneling ke gigi dua atau tiga. Lagi pula saya harus beriringan dengan sebuah truk yang bermuatan pasir. Di pertengahan jalan, ketika ada peluang untuk mendahului, saya tancap gas dan ganti perseneling ke gigi dua. Sukses, namun tiba-tiba sebuah truk dari arah berlawanan cukup membuat nyali menciut karena cukup kencang di daerah yang cukup rawan. Akhirnya kembali ke gigi satu, dan perjalanan saya lanjutkan dengan pelan.

Sampai di puncak, di sisi sebelah barat tebing Kaldera Batur, berjarak sekitar 5 kilometer dari titik dimana saya turun tadi siang saya disambut dinginnya udara Kintamani yang berkabut. Kaca dipenuhi embun, jarak pandang menjadi terbatas. Hmmmm….bagaimana kalau saya mapir di Sekaan untuk sekedar mencicipi kopi luwak menghilangkan dingin ini? Siap, saya meluncur dengan sangat hati-hati menembus kabut menuju Desa Sekaan yang berjarak sekitar 6 dari tempat ini.

Sampai di Desa Sekaan, saya memesan secangkir kopi luwak seharga Rp. 50.000. Sembari menunggu kopi, saya sempatkan melihat-lihat sekitar perkebunan. Akhirnya saya baru tahu bagaimana petani disini mendapatkan kopi luwak dan menjaga kualitasnya. Mulai dari pemeliharaan luwak, memilih kopi yang akan diberikan kepada luwak, pengolahan kopi kotoran luwak sampai menumbuk pun ternyata masih tradisional. Tak heran, daerah ini menjadi “Coffee Paradise-nya” Pulau Bali. Beberapa tamu mancanegara yang sempat saya ajak ngobrol mengatakan, ini adalah salah satu tempat yang harus dikunjungi ketika berlibur ke Bali. Selain karena keunikan kopi luwaknya, kapan lagi anda bisa menikmati kopi termahal di seluruh dunia?

Kopi luwak saya terhidang di atas meja kayu gelondongan. Rupanya ada bonusnya, mereka juga menghidangkan berbagai macam minuman gratis lainnya untuk dicoba. Ada kopi ginseng, coklat panas, kopi jahe dan entah apa lagi. Mereka memberikan sampel gratis kepada pengunjung, dan jika pengunjung suka dapat membeli bahan-bahan minuman tadi di toko kecil di sebelah warung kopi. Oh ya, warung kopi ini berada di tengah perkebunan, dikelilingi aneka macam tanaman dari kopi, vanila, cengkeh, jeruk dan puluhan lainnya.

Setelah puas menikmati kopi luwak dan aneka minuman gratis tadi, perjalanan saya lanjutkan menuju Denpasar melewati Tegalalang yang terkenal dengan terasering persawahannya. Kali ini jalan sudah cukup bagus. Meski agak basah karena habis hujan. Terios masih bisa digeber dengan maksimal. Licinnya jalan tidak terasa, remnya cukup pakem untuk pengereman mendadak. Dan saya yakin saat ini bahwa Terios memang pas menjadi kendaraan Sahabat Petualang.

Tulisan ini untuk Kontest Blog Mobil Sahabat Petualang. Mungkin tulisan ini keluar dari konteks persyaratan dari panitia lomba. Tetapi saya ingin mencoba menggali sisi lain arena petualangan yang tidak kalah serunya, yang saya hadapi sendiri sambil menjajal kemapuan Terios yang kini menjadi salah satu mobil yang saya anggap paling tangguh di kelasnya. Sekali pun tidak lolos nominasi, setidaknya saya telah berbagi cerita dari pengalaman saya bersama Daihatsu Terios, dan kebanggan sebagai bangsa Indonesia terhadap potensi-potensi daerah.

6 thoughts on “Berpetulang Menjelajah Geopark Dunia Bersama Daihatsu Terios – Mobil Sahabat Petualang

  • mantap selamat ya, salam kenal juga

  • Tepian danau Batur di kaki gunung banyak difungsikan untuk kebun sayur, limpahan air danau menjadi sumber pengairan lahan perkebunan dan juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar, khususnya jenis ikan mujahir. Danau dengan luas 16 km2 tersebut dikelilingi beberapa desa antara lain desa Songan, desa Batur, desa Kedisan, desa Buahan, dan desa Trunyan. Sementara itu beberapa desa sekitar adalah desa Toyabungkah, desa Sawangan, desa Penelokan dan desa Tenten.

  • Saat ini makin sulit menemukan satwa yang dilindungi di alam bebas, misalnya orangutan. Satwa langka ini hanya bisa ditemui di beberapa titik di Indonesia. Selain Tanjung Puting di Kalimantan, orangutan yang masih hidup bebas berada di hutan Gunung Leuser. Kawasan wisata Bukit Lawang berada di Sumatera Utara dan merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser yang membentang dari Sumatera Utara hingga Aceh. Objek wisata ini sudah lama dikenal oleh masyarakat sekitar namun pernah rusak parah akibat banjir besar pada tahun 2003. Memang, objek utama di Bukit Lawang adalah Sungai Bahorok — atau sering disebut Sei Bahorok. Sungai besar dengan hutan lebat di sisi kanan kirinya menjadikan tempat ini favorit bagi mereka yang ingin melarikan diri dari kesibukan kota besar. Anda bisa menjelajahi hutan hingga sampai di Tangkahan, sebuah objek wisata menarik lainnya di Sumatera Utara. Bila Anda seorang petualang tangguh, mungkin Anda ingin melakukan jelajah hutan hingga ke Ketambe di wilayah Aceh bagian selatan. Karena keterbatasan waktu karena sedang melakukan backpacking lintas Sumatera Utara dalam waktu beberapa hari saja, saya hanya melakukan jelajah hutan satu hari. Disertai seorang pemandu, saya memulai perjalanan singkat menjelajah Gunung Leuser. Hutan hujan tropis yang saya lalui masih cukup lebat, kicau burung terdengar bersahutan. Ranting berderak patah terinjak kaki-kaki kami. Beberapa kali kami harus melewati sungai kecil yang mengalir di tengah hutan.

  • Yuk ubah mindset kita ketika travelling or berpetualang: tmp yg kita tuju bkn tdklah cukup hanya kita ketahui (tapi harus kita bisa mengerti). Travelling/Berpertualang bukan hanya sekedar fun tetapi hrs lebih dari itu. Krn selama perjalanan melihat & merasakan apa yg terjadi dilapangan. Sempaikan selalu hal positifnya. Belajarlah selalu dari setiap perjalanan. Krn kitalah yg menjadi penyambung lidah mereka ke dunia.

Leave a Reply

%d bloggers like this: