Tumpek Pengatag, Filosofi Bali tentang Hidup Hijau

Kearifan Sederhana Masyarakat Bali  dan Teknologi Modern Daihatsu Menjaga Lingkungan Hijau

Pernah mendengar kata “Tumpek Pengatag” atau “Tumpek Bubuh” atau “Tumpek Uduh”? Sebagian dari pembaca mungkin belum pernah mendengarnya. Tapi bagi masyarakat Bali kata ini adalah agenda rutin setiap 6 bulan kalender Bali, tepatnya tiap Saniscara Kliwon Wariga yang jatuh pada hari Sabtu kalender Masehi setiap dua ratus sepuluh tahun sekali.

Adalah masyarakat Hindu Bali yang selalu mengaitkan berbagai aspek kehidupan dengan berbagi ritual yang penuh dengan filosofi dan upacara. Sepintas ritual-ritual ini hanya terkesan sebagai upacara tanpa makna dan hanya menyembah dewa-dewa yang dikategorikan sebagai budaya animisme atau dinamisme.

Lalu, apa yang istimewa dari Hari Saniscara Kliwon Wariga? Hari ini masyarakat Bali memperingati sebuah ritual yang disebut dengan Tumpek Pengatag. Ada juga yang menyebutnya Tumpek Bubuh, Tumpek Uduh atau Tumpek Wariga. Dari aspek upacara, tujuan dari ritual ini adalah pemujaan kepada Sanghyang Sangkara, dewa yang memberikan kehidupan kepada tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Ini adalah ungkapan rasa syukur masyarakat Hindu Bali kepada Tuhan atas anugerah tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan makanan untuk manusia atau makhluk lain.

Jangan heran, ketika anda di Bali melihat pepohonan hijau dihisasi rangkaian janur pada hari ini. Masyarakat akan datang membawa sesajen ke kebun dan menghaturkannya di pura kecil yang dibuat khusus untuk kebunnya. Sembari menghaturkan sesajen dan memasang hiasan janur, pemilik kebun akan bergumam, “Nged…nged…nged”. Yang artinya “Lebat…lebat…lebat” disertai doa dan harapan agar pohon itu memberikan hasil yang melimpah.

Dari sisi etika, masyarakat Hindu Bali pantang untuk menebang pohon pada hari ini. Mereka juga tidak mau memetik dan memanen daun, umbi atau buah dan lebih dianjurkan untuk menanam pepohonan. Secara etika masyarakat berusaha menyerasikan ritual dengan tindakan nyata menjaga kelangsungan hidup pepohonan.

Secara filosofis, upacara ini ada wujud penghargaan tertinggi masyarakat Hindu Bali kepada alam terutama tumbuh-tumbuhan yang telah menyediakan bukan saja bahan makanan tetapi juga oksigen yang menjamin keberlangsungan hidup manusia dan hewan lainnya, sehingga rantai ekologi berjalan dengan serasi.

Di pedesaan ritual ini masih berjalan dengan teratur setiap 210 hari sekali. Tanpa ada himbauan atau pedoman khusus dari lembaga keagamaan. Bahkan di beberapa desa di Bali, tradisi menebang pohon selalu diikuti dengan penanaman pohon baru di sekitar pohon yang baru ditebang. Ini adalah cara yang paling sederhana yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat di Bali.

Mungkin ini terkesan kuno, penuh dengan klenik bagi sebagian orang. Tetapi bagi masyarakat Bali, ini adalah kepercayaan turun temurun yang mereka percaya bisa menjaga kelestarian ekosistem.

Jika Bali punya Tumpek Pengatag untuk menjaga alam, Daihatsu mengembangkan teknologi modern ramah lingkungan pada setiap produk keluarannya. Daihastu sebagai spesialis produsen mobil kompak menghadirkan produk berkualitas, harga terjangkau dan ramah lingkungan. (Tak heran saya jadi jatuh cinta dengan produk Daihatsu ini dan menjadikannya sebagai kendaraan pilihan baik untuk keperluan pribadi atau bisnis. Apalagi tulisan saya terdahulu juga menang lomba blog Daihatsu disini, berkat Daihatsu Terios yang selalu menemani saya dalam urusan pekerjaan atau urusan pribadi)

Rangkaian teknologi ramah lingkungan ini terdiri dari tiga tahap, yang terdiri dari  “Eco-Idle” Technology, 2 Cylinder Turbocharged Direct Injection dan Precious Metal-Free Liquid-Feed Fuel Cell.

Tahap 1: Eco-Idle Technology
Teknologi eco-idle ini mampu mengatur hidup dan mati mesin secara otomatis dalam keadaan macet untuk mencapai efisiensi konsumsi bahan bakar. Pada tahap ini dengan sistem-EGR mampu menghasilkan pembakaran sempurna dan meminumkan keluaran gas CO2.

 Tahap 2:  2 Cylinder Turbocharged Direct Injection
Tahap kedua ini mesin memiliki komponen yang lebih sedikit, sehingga lebih ringan, dan menggunakan sumber daya alam yang lebih sedikit. Dengan active ignition system  dan berbagai improvement lainnya, efisiensi penggunaan bahan bakar bisa mencapai 30%. Daihatsu ingin menghadirkan kenyamanan dalam berkendara dan efisiensi bahan bakar, meskipun dengan mesin cc rendah melalui sistem turbo yang ada pada tahap ini.

Tahap 3: Precious Metal-Free Liquid-Feed Fuel Cell
Pada tahap ini emisi gas buang CO2 nol, ini merupakan wujud kendaraan yang ramah lingkungan. Bahan pembuatan kendaraan ini menggunakan sumber daya alam yang lebih sedikit, tidak mengandung logam mulia, sehingga biaya yang dikeluarkan lebih rendah. Tahap ini berfokus pada penggunaan bahan bakar cair baru yaitu Hidrazin Hidrat. Zat ini memiliki kepadatan energi yang tinggi dan tidak menghasilkan CO2. Zat ini adalah bahan bakar cair yang tepat untuk mobil ramah lingkungan generasi baru.

Jika kearifan masyarakat Bali menjaga lingkungan adalah local genius dengan cara-cara sederhana memberikan penghargaan tertinggi kepada alam dan kepada tumbuhan yang dilakukan oleh individu tanpa paksaan. Kesadaran manusia Bali dibentuk oleh ritual dan tradisi yang berkembang dari generasi ke generasi. Mereka tidak direcoki oleh teori-teori ilmiah yang minim implementasi. Setiap ritual manusia Bali mengandung makna filosofis yang berkaitan secara horizontal dan vertikal. Manusia Bali menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya.

Di tatanan korporasi, Daihatsu adalah model perusahaan yang menciptakan dunia yang minim polusi. Teknologi Daihatsu dirancang untuk mengurangi polusi dan ramah lingkungan dengan harga terjangkau.

Catatan:

Foto-foto adalah koleksi pribadi. Gambar diambil dari website Daihatsu Indonesia



4 thoughts on “Tumpek Pengatag, Filosofi Bali tentang Hidup Hijau

  • Komplit ulasannya.mari dukung teknologi hijau dari Daihatsu untuk bumi yang lebih baik.

    salam kenal, mampir ya di tulisanku http://windiland.blogspot.com/2013/05/teknologi-hijau-penerapan-mobil-ramah.html

  • WEDA, kitab suci agama Hindu, adalah sabda Tuhan yang bersifat supra empiris. Artinya, diluar pengalaman manusia. Sabda Tuhan tersebut diamalkan manusia secara individual maupun dalam kehidupan sosial dalam masyarakat. Sabda Tuhan itu mahasempurna, sedangkan manusia yang mengamalkannya penuh dengan berbagai keterbatasan atau tidak sempurna. Pengalaman agama dalam kehidupan empiris itu tentu tidak sesempurna sebagaimana yang disabdakan Tuhan.

  • Ritual upacara ngaben masyarakat hindu bali biasanya di selenggarakan dengan meriah baik seluruh keluarga dan orang- orang di sekitarnya. Dalam perkembangannya sendiri upacara ngaben telah menjadi agenda wisata baik dalam dan luar negeri sebagai bagian dari wisata rohani untuk menonton ritual ini terutama pada tahapan kremasi jenazah. Untuk perayaan dari upacara ngaben harus di setujui dulu oleh anggota keluarga karena upacara ritual ini memerlukan banyak persiapan dan bukan hanya sekedar upacara biasa namun ini tentang upacara keagamaan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: