Leak, Hantu Pemakan Bayi

Nang Tut menuntunku menyusuri jalan setapak kecil menuju rumah Kaki, seorang dukun beranak di kampungku. Diterangi obor yang dibuat dari potongan bambu yang diisi minyak tanah, perjalanan ke rumah Kaki terasa menyeramkan. Bayang-bayang pepohonan bergerak mengikuti langkah kami. Tubuh kecilku terasa makin mengkerut menyaksikan bayang-bayan pohon yang bergerak-gerak akibat nyala obor yang ditiiup angin malam.
Rerumputan liar yang menutupi jalan setapak kurasakan sebagai ular atau tangan-tangan leak yang selalu siap menjadi perangkap setiap kaki yang melewatinya.

Sementara rumah Kaki masih jauh. Rumah terdekat dari jalan setapak itu juga tak terlihat. Cericit binatang malam selalu aku pikir itu suara-suara leak yang mengikuti kami menuju rumah Kaki. Nang Tut berbisik, “Cepatlah, biar cepat sampai rumah Kaki”. Kaki kecilku makin berat saja untuk mengikuti langkah-langkah panjang pamanku itu.

Sreetttt…..

Tiba-tiba di depan kami sebuah bola api menyala-nyala. Pusat bola api itu tidak lebih kecil dari buah kelapa. Melesat seperti ditembakkan dari langit, menyambar tanah sekira selemparan orang dewasa di depan kami . Firasat kecilku merasakan biasa saja, itu seperti hiburan buatku. Tapi tidak demikian buat pamanku, aku rasakan tangannya dingin dan gemetar.

Aku yang masih belum menyadari apa-apa bertanya setengah berbisik, “Apa itu, Nang Tut?” Pamanku tercekat, suaranya seperti dicegat di kerongkongan. Nafasnya seperti berhenti di leher. Dia menjawab pelan, “Merunduklah”.┬áDiikuti tubuhnya yang langsung merunduk ke tanah. Api obor dia tiup sampai padam, kami duduk di tengah jalan setapak sambil memperhatikan bola api yang menyambar tanah itu. Suasana gelap, kini aku yang ketakutan. Aku rasakan celanaku mulai hangat. Cerita-cerita seram yang sering kudengar dari orang-orang mulai memenuhi kepalaku. Tubuh kecilku gemetar, aku rapatkan tubuhku ke tubuh pamanku dan dia pun refleks mendekap tubuhku.

Dalam beberapa detik itu, kami benar-benar berada pada puncak ketakukan. Itu pertama kalinya aku menyaksikan kejadian yang di luar nalarku waktu itu. Bola api yang tadi kulihat meluncur dari langit kini menghujam tanah. Suaranya berdebum, menyentuh tanah. Anehnya, tak tampak seperti kebakaran di tempat api itu jatuh. Padahal jelas aku lihat, api itu jatuh di tanah yang ditumbuhi padang ilalang yang mudah terbakar.

Gelap dan sepi.

Nang Tut mengambil korek kayu yang disimpan di lipatan sarungnya, lalu menyalakan kembali obornya. Keliahatan dia berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Kaki. Dan kami bangun, menyusuri kembali jalan setapak kecil dan sepi itu. Aku yang tadi berjalan di depan pamanku, kini berjalan di sampingnya saja. Aku tak berani bertanya kepada pamanku, takut jawaban yang dia berikan sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Aku ikuti saja langkahnya.

Akhirnya, kami sampai di rumah Kakek. Rumah itu berdiri di tengah-tengah perkebunan. Di sebelah utara rumah kakek adalah dasar tebing. Dari luar tak tampak cahaya apa pun, dan pamanku memastikan Kaki sudah tertidur di dalam rumah. Pamanku memanggil-manggil kakek dari depan pintu.

Tak ada jawaban.

Kami gedor-gedor pintu dan dinding rumahnya yang terbuat dari bilah-bilah bambu.

Masih tak ada jawaban.

Putus asa. Kami duduk di teras, lebih tepatnya gundukan tanah yang dipadatkan yang ditahan dengan bilah-bilah bambu agar menyerupai teras.

Setengah jam.

Satu jam.

Pamanku mulai khawatir. Ibuku sudah dalam masa persalinan, dari tadi sore sudah lemas karena akan melahirkan adikku yang kedua. Kami belum beranjak dari rumah Kaki. Pamanku tidak mau pulang ke rumah tanpa Kaki. Dia putuskan menunggu saja di sana. Aku mulai mengantuk.

“Bangun”, “Tet, bangun” Pamanku mengguncang-guncangkan tubuhku yang rebah di pangkuannya. Aku lihat Kaki juga sudah berdiri di depanku. Tanpa berkata apa-apa lagi paman dan Kaki langsung beranjak meninggalkan rumah kaki. Aku mengira-ngira waktu itu telah melewati tengah malam.┬áKetakutan pamanku sepertinyamulai berkurang karena kami sekarang berjalan beriringan bertiga. Kaki di belakang, aku di tengah dan pamanku berada di depan ssambil membawa obor sebagai penerangan. Kaki sesekali bertanya keadaan ibuku. Aku tak lagi memperhatikannya. Hanya ingin cepat pulang saja, lalu melanjutkan sisa-sisa kantukku tadi di tempat tidur.

Sampai di rumah, kakek tanpa banyak bicara memberikan komando kepada paman dan ayahku untuk menyiapkan segala keperluan persalinan. Beberapa kerabat juga mulai berdatangan dan membantu menyiapkan perlengkapan persalinan. Kaki dengan cekatan melakukan tugasnya. Entah bagaimana prosesnya, di dalam rumah hanya diperkenankan ayah, Kaki dan ibuku. Yang aku tahu, beberapa jam setelah Kaki datang, suara tangis adikku memecahkan heningnya malam yang menjelang pagi itu.

Kami yang tadi menunggu di luar rumah kini dibolehkan masuk oleh Kaki. Semuanya sudah beres. Ibuku kini berbaring di tempat tidur bersama adikku. Dia laki-laki. Ketegangan dari seluruh kerabat kini berubah jadi keceriaan. Semua kerabat berebut melihat adikku dan menanyakan kondisi ibuku. Ayahku sibuk mengurus ari-ari adikku dibantu oleh paman.

Jderrrrrr……….

Semua orang di dalam rumah dikejutkan bola api yang menyambar lagi dekat rumahku. Hening beberapa detik. Tak ada suara apa pun dari semua orang yang ada di rumah kami saat itu. Semua wajah terlihat tegang. Kaki menyuruh menutup pintu rapat-rapat.

Terlambat.

Seekor kumbang, mirip beduda tiba-tiba berhasil menerobos masuk ke dalam rumah kami. Semua panik, para wanita menangis menjerit-jerit. Adikku didekap erat-erat oleh ibuku.

Kumbang terbang berputar beberapa kali di atas tempat tidur dimana adik dan ibuku berbaring

Kaki tiba-tiba duduk bersila, mulutnya komat kamit. Lalu meminta pamanku mengambil kayu. Entah mantra atau apa yang digumamkan Kaki. Sehabis dia komat-kamit lalu bangun mengejar kumbang dengan kayu yang diberikan oleh pamanku. Kayu yang dipegangnya dipergunakannya untuk memburu kumbang seperti pemain bulu tangkis dengan raketnya.

Plak…
Sebuah pukulan telak mengenai kumbang. Kaki mengambilnya, lalu meludahinya. Terakhir melemparkannya ke tungku dapur yang masih menyala. Bau kumbang terbakar menyegat. Kumbang menggelepar di dalam api sepersekian detik, dan terbang kembali. Kaki membuka pintu dan memberikan ruang kepada kumbang itu untuk terbang ke luar rumah.

Suasana masih mencekam. Belum ada yang berani bersuara.

“Itu tadi leak yang menyamar menjadi kumbang. Kaki tahu, kalian diikuti semenjak perjalanan ke rumah kaki tadi. Karena itu kaki tadi lama menyiapkan beberapa jimat. Kaki sudah memperkirakan ini akan terjadi.” Kaki membuka pembicaraan di tengah keheningan. Lalu menyulut rokok dari gulungan kulit jagung kering yang diisi tembakau di dalamnya.

“Kalau saja Kaki tidak ada di sini tadi, mungkin I Barak sudah dimakan sama leak itu” Kaki melanjutkan.
“Tunggulah besok siang, seseorang akan datang minta obat luka bakar ke sini dalam bentuk apa saja. Mungkin air, makanan atau apa saja. Kaki tidak perlu mengatakan, siapa orang yang yang menjadi leak tadi, besok kalian akan mengetahuinya”. Kaki menghisap rokoknya dalam-dalam

“Sudah hampir pagi, Kaki pulang dulu. Jika dia datang besok, suruh dia minta obat ke tempat Kaki” pesannya.

Besoknya…

Seorang wanita setengah baya, dengan tubuh penuh luka bakar datang ke rumahku. Dia meminta air untuk minum. Dia tetanggaku.

Catatan:

Nang Tut: Panggilan kepada paman Nanang Ketut (anak keempat, Ketut). Sekarang biasa dipanggil Om Ketut
Barak: panggilan kepada bayi yang baru lahir
Kaki: kakek
Tet: panggilan sayang, semacam kata “nak atau nduk”

One thought on “Leak, Hantu Pemakan Bayi

Leave a Reply

%d bloggers like this: