Petani-petani Terakhir di Pulau Para Dewa

Apakah ini kekhawatiran saya yang berlebihan? Iya, saya membayangkan generasi hari ini adalah generasi terkahir di Pulau Dewata yang masih mau dan mampu menjadi petani. Tuntutan gaya hidup telah merubah (sebagian) pola pikir masyarakat Bali dari memenuhi kebutuhan hidup menjadi memenuhi keinginan hidup.

Sebelum semua warga Bali menjadi kuli kapal pesiar atau menjadi penghamba wisatawan yang berkunjung ke Bali, atau yang lebih ekstrim lagi sebelum semua warga Bali beralih profesi menjadi anggota ormas, saya mencoba mengabadikan beberapa aktivitas petani yang masih bertahan dengan sawah atau lahan pertanian mereka di tengah tuntutan gaya hidup masyarakat Bali yang kian hari kian tidak bisa mereka ikuti.

Tentu saja pemilihan judul di atas ini sangat berlebihan bila dibandingkan dengan fakta yang sebenarnya. Masih banyak masyarakat Bali yang masih teguh bertani, mewarisi tradisi leluhur mereka secara turun temurun. Tulisan ini hanyalah sebuah tamparan kepada diri saya sendiri, dan kamu yang merasa takut lagi mengambil cangkul dengan kaki berlumuran lumpur di tengah lahan pertanian.

Tulisan ini mungkin cocoknya hadir ketika petani-petani renta itu tidak lagi ada generasi penerusnya. Penyebabnya bukan saja karena generasi mudanya takut cangkul, tetapi juga karena lahan pertanian mereka menjadi lahan pertanian beton yang dimonopoli oleh korporasi besar yang menggunakan hitungan kapitalis.

2

5

6

7

8

9

10

11

12

13

Leave a Reply

%d bloggers like this: