Ngerangkat, Mencuri Istri

Hari beranjak gelap. Bersama beberapa pria, Made Kenjer berjalan mengendap-endap mendekati rumah kediaman Pan Luh Sari. Mereka berlima. Sebisa mungkin mereka tidak mengeluarkan suara atau gerakan mencurigakan agar si empunya rumah tidak melihat atau mendengarnya.

Di rimbunan semak yang tidak jauh dari rumah Pan Luh Sari, seorang gadis umur 23 tahun, Ni Luh Sari bersembunyi menunggu kehadiran pria-pria yang akan menculiknya ini. Made Kenjer dan Luh Sari adalah sepasang kekasih. Mereka telah merencanakan penculikan ini. Beberapa hari lalu, ketika ada odalan di pura desa mereka bersepakat, 10 hari dari semenjak odalan usai, Made Kenjer akan menculik Luh Sari dari dekat rumahnya. Ditemani beberapa kerabat Kenjer, malam ini mereka akan melakukan aksi penculikan terencana ini.

Sari dan kenjer kini telah bertemu di tempat yang mereka sepakati. Dengan tergesa dan penuh waspada, Kenjer dan kerabatnya berjalan mengitari perkebunan mencari rerimbunan tanaman yang agak tebal untuk menghindari pandangan Pan Luh dan keluarga Ni Luh. Anak gadis pujaan hati Kenjer ini kemudian dibawa ke rumah salah seorang kerabat Kenjer untuk kemudian disembunyikan (mengkeb). Sebisa mungkin mereka tidak menggunakan obor atau senter agar perjalanan mereka tidak ada yang mengetahui.

Seorang utusan sudah disiapkan. Begitu Ni Luh Sari sampai di tempat persembunyian, utusan akan datang ke rumah Pan Luh membawa pesan dari keluarga Made Kenjer bahwa anak gadisnya telah diambil dijadikan istri oleh Made Kenjer. Tugas utusan ini juga mencari tahu, kapan waktu yang disiapkan oleh pihak keluarga wanita untuk melakukan rembug mengenai perkawinan ini. Kadangkala, utusan ini harus bersikap sangat hati-hati, karena tidak jarang keluarga dari pihak wanita tidak setuju dan marah-marah dengan perkawinan ini.

—————————–

Cerita di atas banyak dijumpai di Songan, dan masih bisa dijumpai saat ini. Dua puluh tahun yang lalu sebagian besar masyarakat Songan masih menggunakan cara ini untuk melakukan perkawinan. Ngerorod, di tempat saya di Desa Songan juga dikenal dengan istilah ngerangkat. Sudah jarang yang melakoninya saat ini. Dua puluhan tahun lalu, model perkawinan ini sangat lumrah ditemukan di di sana. Ngerangkat atau Ngerorod adalah perkawainan dengan cara kawin lari baik atas dasar kesepakatan kedua keluarga atau tidak. Di tempat lain, perkawinan ini terjadi karena biasanya orang tua si wanita tidak mengijinkan anaknya dikawini oleh pria pacar anaknya.

Ngerangkat, bukan sekedar menculik anak perempuan orang lalu dijadikan istri. Ngerangkat mengajarkan keberanian dan tanggung jawab bagi si pria. Berani melarikan anak orang, mengindikasikan bahwa si pria siap secara mental menjadi seorang suami. Ujian pertama dimulai ketika si pria mengutarakan isi hatinya kepada si wanita untuk dijadikan istri, lalu bersepakat mencari hari yang tepat untuk melarikannya. Ketika wanita siap menerima pinangan si pria, dia diuji lagi dengan cara dia harus membuktikan bahwa dia benar-benar berani menculiknya di dekat rumahnya.

Ngerorod juga dilakoni banyak pasangan untuk menekan biaya perkawinan. Dengan kawin ngerorod, mereka tidak akan mengundang banyak orang, karena dianggap diam-diam dan jangan sampai diketahui banyak orang. Dalam kondisi seperti ini, orang tua si wanita bisa saja sudah tahu bahkan menyetujui perkawinan itu. Dengan pertimbangan biaya, orang tua si wanita menyarankan anaknya dikawini secara ngerangkat untuk meringankan beban anak-anaknya.

Dalam perkawinan ngerangkat, (di Desa Songan- di tempat lain mungkin berbeda) ada beberapa  rentetan kejadian. Pertama disebut mejaga atau menjaga. Pada saat ini, si pria dan keluarga pria akan melakukan pengintaian dan menunggu si wanita keluar dari rumahnya. Begitu wanitanya keluar akan segera dibawa lari menuju rumah yang akan dijadikan tempat persembunyian sementara (mengkeb). Pengantin baru ini pantang untuk langsung pulang ke rumah pria. Setidaknya 3 hari mereka akan tinggal di rumah persembunyian.

Selama masa persembunyian ini, akan terjadi kesepakatan-kesepakatan antara keluarga pria dengan keluarga wanita. Setelah utusan dari pihak keluarga pria memberitahu tentang perkawinan ini kepada keluarga wanita, utusan ini juga menunggu waktu dari pihak keluarga wanita mengenai kapan akan dilanjutkan dengan Ngangkenang.

Ngangkenang, adalah pengakuan secara resmi dari pihak pria bahwa anak gadis dari keluarga wanita telah dikawini secara sah. Kedatangan keluarga pria ke rumah keluarga wanita secara simbolis menggambarkan bahwa perkawinan itu telah mendapat restu dari keluarga pria dan menguatkan pula bahwa keluarga pria akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap anggota keluarga baru mereka (si wanita).

Jika ngangkenang ini diterima oleh pihak keluarga wanita akan dilanjutkan dengan proses ‘mepradang’. Pada tahap ini pembicaraan resmi antara kedua belah pihak. Pembicaraan ini meliputi kapan akan ‘ngunya’ atau ‘nganggur’, ‘tubaya’, ‘mekandal’ dan petuah-petuah serta kesepakatan-kesepakatan lain yang dianggap perlu di antara kedua belah pihak.

Setelah proses ngangkenang ini, pernikahan di lingkup keluarga dianggap sah. Kedua keluarga bersepakat untuk mengikatkan hubungan anak-anak mereka dalam ikatan perkawinan. Proses ini akan diikuti oleh proses nganggur. Dalam tahap ini, keluarga pria akan berkunjung ke rumah wanita dan beberapa rumah kerabat wanita sebagai ajang silaturahmi pertama keluarga yang baru terbentuk itu.

Secara adat, orang yang baru melakukan perkawinan dianggap leteh atau kotor. Ada banyak pantangan bagi mereka yang baru kawin. Pantangan ini akan dilebur dengan beberapa upacara seperti “bea kala” dan “tutug baya”. Upacara ini merupakan simbol pembersihan secara niskala atau rohani.

Pada ruang yang lebih besar, pengantin ini harus diakui secara sah di desa adat. Sampai mereka melakukan upacara “mekandal”, perkawinan dalam lingkungan desa adat belum dianggap sah. Satu pantangan yang mensyaratkan bahwa perkawinan mereka belum sah, mereka tidak boleh memasuki jaba tengah dan jeroan dari pura desa. Sampai upacara mekandal yang dilakukan di pura desa, dan merupakan pertama kalinya mereka memasuki pura desa sebagai keluarga baru, mereka dianggap sah secara keluarga dan adat.

Perkawinan dalam desa adat tidak saja dipandang dalam hubungan biologis pria dan wanita. Perkawinan adalah tangguh jawab. Mereka bertanggung jawab terhadap keluarga baru mereka, bertanggung jawab pada banjar dan bertanggung jawab pada desa adat. Secepat mungkin, setelah upacara perkawinan usai, pengantin akan berusaha memiliki rumah mereka sendiri. Dalam lingkungan komunitas adat, mereka bersiap ngayah dan membayar iuran atau urunan untuk melangsungkan berbagai kegiatan adat dan upacara di desa adat.

Esensi dari perkawinan model apa pun itu, bukanlah pada bagaimana cara dan berapa biayanya. Tetapi perkawinan adalah momentum untuk memberikan tanggung jawab sebagai keluarga utuh bagi pasangan baru dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang lebih luas.

5 thoughts on “Ngerangkat, Mencuri Istri

  • Dari pihak pria memohon pada seseorang yang biasanya lebih tua untuk berkunjung ke rumah orang tua wanita. Tujuannya untuk menyatakan bahwa pada hari anu, dari pihak pria akan datang melamar, kiranya diperbolehkkan atau tidak. Kalau sudah tau sama tahu, maka ini hanya sebagai formalitas saja yang memperteguh jalinan yang akan dilakukan (lamaran).

  • Islam tidak menghendaki kita berfikiran materialistis, yaitu hidup yang hanya berorientasi pada materi. Akan tetapi bagi seorang suami, yang akan mengemban amanah sebagai kepala keluarga, maka diutamakan adanya kesiapan calon suami untuk menafkahi. Dan bagi fihak wanita, adanya kesiapan untuk mengelola keuangan keluarga. Insyallah bila suami berikhtiar untuk menafkahi maka Allah akan mencukupkan rizki kepadanya. Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni’mat Allah? (QS. 16:72) ” Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32)”. F.

  • Ini adalah acara adat yang paling penting dalam seluruh rangkaian acara perkawinan menurut adat Minangkabau. Calon pengantin pria dijemput dan dibawa ke rumah calon pengantin wanita untuk melangsungkan akad nikah. Prosesi ini juga dibarengi pemberian gelar pusaka kepada calon mempelai pria sebagai tanda sudah dewasa. Lazimnya pihak keluarga calon pengantin wanita harus membawa sirih lengkap dalam cerana yang menandakan kehadiran mereka yang penuh tata krama (beradat), pakaian pengantin pria lengkap, nasi kuning singgang ayam, lauk-pauk, kue-kue serta buah-buahan. Untuk daerah pesisir Sumatra Barat biasanya juga menyertakan payung kuning, tombak, pedang serta uang jemputan atau uang hilang. Rombongan utusan dari keluarga calon mempelai wanita menjemput calon mempelai pria sambil membawa perlengkapan. Setelah prosesi sambah-mayambah dan mengutarakan maksud kedatangan, barang-barang diserahkan. Calon pengantin pria beserta rombongan diarak menuju kediaman calon mempelai wanita.

  • blog yang cukup menarik, dan themes yang sangat seo frendly. salam hangat http://www.marinirseo.web.id Pembicara Internet Marketing

  • Kunjungi Blog Akuu yaa, maaf Blogger newbie bro contohseonih.blogspot.com

Leave a Reply

%d bloggers like this: