Kasino Made in Bali

Tanyalah pada lelaki Bali, apakah mereka bisa memainkan salah satu permainan judi ala Bali? Mungkin delapan dari sepuluh orang lelaki Bali akan mengatakan mereka pernah dan bisa bermain judi. Bali bukan Las Vegas atau Taiwan yang penuh dengan kasino-kasino kelas dunia. Menjadi pulau wisata kelas dunia, tak serta merta menjadikan Bali sebagai destinasi dengan tawaran kasinio kelas dunia atau wisata prostitusi. Bali tetaplah Bali, yang sampai saat ini masih bisa bertahan dengan tradisi yang turun temurun dianggap sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia Bali. Tapi, percayalah di Bali judi itu ada, dan sangat besar. Bahkan mungkin mengalahkan perputaran arus uang kasino-kasino itu jika semua judi di Bali dilokalisasi dijadikan semacam kasino layaknya Las Vegas.

Di Bali, judi bukan sesuatu yang baru, bukan pula hal yang dianggap tabu apalagi haram. Sebagian besar lelaki Bali pernah bermain judi meski tidak selalu taruhannya uang. Di kalangan anak-anak pedesaan di Bali pegunungan, mereka sudah akrab dengan judi. Mereka taruhan bermain kelereng, atau main karet gelang dengan aneka model permainan. Yang menang berhak mendapatkan karet atau kelereng lawannya. Atau, ketika mereka menyabit rumput untuk sapi-sapi mereka, rumput sebagai taruhannya. Ada judi “gacokan” menggunakan batang jagung sebagai sarana pertandingan judi mereka. Batang jagung yang hancur dianggap kalah, dan pemiliknya wajib membayar pemenang sebanyak rumput yang disepakati. Bagi yang pintarmegacok, bisa jadi keranjangnya sudah penuh rumput karena selalu menang, sedangkan keranjang lawan mainnya masih kosong.

Saat pemilihan gubernur dan wakil gubernur, yang lebih heboh adalah para bebotoh yang bertaruh pada jagoan masing-masing. Bisa jadi bebotoh bersorak lebih girang dibandingkan dengan pemenang pemilihan gubernur dan wakil gubernur kemarin karena jagoannya menang. Euforia pemilihan kepala daerah atau pemilihan presiden tidak sebatas menjagokan calon andalan, para bebotoh melihatnya sebagai ajang taruhan.

Bagi sebagian besar lelaki, judi bukan saja sekadar pertaruhan uang atau barang. Judi adalah adu ketangkasan atau adu strategi. Ini berkaitan dengan kebanggan sebagai orang yang lebih pintar berstrategi atau lebih tangkas dalam konteks perjudian ini. Dan sebagai imbalan, pemenang boleh mengambil hak atas apa yang mereka pertaruhkan. Dari sekian model perjudian lelaki Bali, sebagian besar memang mengandung unsur strategi dan ketangkasan bukan hanya mengandalkan faktor keberuntungan. Lihatlah model judi ceki, permainan dengan kartu cina yang biasanya dilakukan oleh lima orang penuh dengan perhitungan dan strategi. Kapan harus “ngejuk” misalnya perlu perhitungan yang cermat. Atau permainan gaplek yang sering disebut permainandomino yang menggunakan kartu domino. Sebelum pemain memutuskan menurunkan kartu, dia akan berhitung dan mengira-ngira beberapa saat untuk menentukan strategi. Mereka harus yakin, apakah kartu yang mereka turunkan akan menguntungkan atau merugikan mereka. Atau contoh lain: permainan metembing, sebuah permainan dengan menggunakan koin. Biasanya dimainkan oleh 2-5 orang. Pemain akan membuat semacam lubang dangkal di tanah, dan koin akan dilemparkan ke dalam lubang. Mereka akan membidik koin-koin yang tercecer di dalam lubang itu. Permainan metembing ini mengandalkan ketangkasan. Pemain harus sangat cermat melempar koin dan begitu pula ketika melakukan bidikan pada koin yang ditunjuk.

Judi bagi masyarakat Bali bukan sebatas berapa uang pemenang yang akan dibawa pulang. Tidak jarang lelaki Bali bahkan mempersiapkan diri untuk kalah. Tanyalah pada mereka yang akan “megebagan”, semacam acara melayat dan menginap di rumah orang yang meninggal. Mereka, para penjudi akan menyiapkan sejumlah uang sebagai bekal begadang sambil menjaga almarhum sebelum dimakamkan di kuburan. “Anggo ngibur” dipakai hiburan atau “Anggo bekel megadang”, dipakai berkal begadang kata mereka. Meski ada pula yang memang berjudi dengan tujuan mencari kemenangan.

Sehari sebelum Nyepi, lelaki Bali akan mencari lawan untuk diajak bermain menghabiskan waktu pada saat penyepian. Mereka bersepakat, di rumah siapa akan bermain. Pada saat nyepi, mereka berkumpul dan bersosialisasi yang mereka jarang dapatkan kesempatan itu ketika hari-hari kerja yang sibuk. Judi menjadi media untuk mengakrabkan diri. Permainan judi juga adalah ajang pergaulan. Dialog tanpa sekat mengalir di antara peserta permainan dari hal remeh temeh sampai hal-hal politik keluarga, wanita dan pekerjaan. Gurauan yang lucu sampai saling sindir mengalir tanpa sekat-sekat formal. Jika mereka sudah duduk bersila dan memegang kartu ceki tak ada yang dianggap lebih tinggi atau lebih terhormat. Mereka punya kedudukan sama pada saat itu, sama-sama sebagai pemain.

Dalam permainan yang lebih serius dan lebih besar, arena judi adalah arena perputaran arus ekonomi masyarakat. Dalam arena tajen, masyarakat yang datang bukan karena semata mau berjudi. Ada yang ingin mencari makanan yang dijual di arena tajen atau mencari pakaian yang dijual di arena itu. Bagi pedagang, arena tajen adalah pasar, mereka menggelar dagangan dari makanan sampai peralatan pertanian. Transaksi kecil-kecilan terjadi di sini, sama seperti di pasar.

Di Bali, judi adalah pergaulan masyarakat. Di sana bukan saja terjadi pertaruhan uang atau barang, tetapi kredibiltas dan kepercayaan. Seseorang yang dianggap curang dalam berjudi akan dikucilkan dari pergaulan judi. Mereka akan kehilangan kesempatan untuk bergaul dalam arena sederhana perjudian kecil. Bagi lelaki Bali, judi dalam skala kecil adalah hiburan dan tempat anjangsana masyarakat.

Itulah, kenapa judi yang jelas-jelas melanggar peraturan perundang-undangan tetap eksis di Bali. Secara sosiologis, permainan judi adalah media sosialnya masyarakat Bali. Karena judi adalah gaya hidup lelaki Bali. Namun ketika kita berbicara tentang judi dalam skala besar, itu adalah judi yang sebenar-benarnya. Dan itu patut dipertimbangkan sebagai sebuah pelanggaran terhadap regulasi republik ini.

One thought on “Kasino Made in Bali

Leave a Reply

%d bloggers like this: